SMART Market

Inspiring for Smart Investing

Tender Offer Indosat, Sebuah Peluang Investasi?

Perdana Wahyu Santosa

Proses tender offer saham ISAT oleh Qatar Telecom (Qtel) yang melelahkan akhirnya mulai menemukan titik terang sekalipun secara legal formal ada semacam ganjalan terkait dgn batas maksimal kepemilikan asing yaitu sebesar 49%. Namun Menkominfo menyerahkan persoalan ini kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan kemudian Bapepam yg akan mengesekusinya. Hal ini memang menjadi polemik tersendiri karena Qtel mengakuisisi ISAT sebesar 65% tanpa harus melepaskan (spin off) anak usahanya bebasis fixed line, StarOne. Boleh jadi aksi korporasi di akhir tahun 2008 ini dinilai pasar sebagai “angin segar” bagi BEI yang sudah luluh lantak diterpa badai krisis global sepanjang tahun.

Pasar juga berekasi positif terhadap proses akuisisi ini, sehingga harga saham ISAT melonjak sebesar Rp. 250/lembarnya atau + 4,63% melanjutkan penguatan beberapa waktu lalu . Selama proses akuisisi ini saham ISAT mengalami kenaikan signifikan dari Rp 4850 per 1 Desember menjadi Rp. 5650 per Jumat siang (26/12/08) namun kembali melemah pada posisi Rp. 5600 (+3,70) jelang tutup pasar karena adanya aksi profit taking.

Menurut rencana, harga saham ISAT untuk tender offer adalah Rp. 7388 perlembar sehingga market price saham telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia ini terus menanjak mendekati harga tender offer-nya. Rencana akuisisi ini dijadwalkan selesai akhir Januari 2009 sehingga masih membuka peluang kenaikan harga lebih tinggi lagi sedekat mungkin dgn harga tender offer-nya. Namun ganjalan batas kepemilikan maksimal 49% membuat para investor lebih menahan diri sementara ini. Pantaskah asing mengendalikan entitas bisnis strategis sepenting Indosat?

Apabila pemerintah, via BKPM memberi sedikit kelonggaran (pelanggaran) batas kepemilikan maksimal Qtel di ISAT maka diprediksi harga ISAT akan kembali melanjutkan penguatannya dengan target harga sekitar Rp 6500. Kenaikan harga ini disebabkan ISAT secara fundamental lebih kuat lagi dan lebih mempunyai daya saing terhadap TLKM sebagai market leader telekomunikasi di Indonesia. Apabila Qtel diberi keistimewaan batas kepemilikan maksimal maka disarankan untuk terus mengkoleksi saham ini.

Namun dibalik analisis kuantitatif tsb, perlu diperhatikan (1). potensi perang harga disektor strategis ini sdh sangat ketat (2) Ekses pengendalian dan kepentingan asing dibalik akuisisi ini dan (3) Benarkah hanya Qtel yang berperan dalam akuisisi ini. Hal2 tsb perlu dipertimbangkan secara matang sebelum mengambil keputusan investasi long-term. Bahkan mungkin, ISAT yg dikendalikan asing nantinya akan digunakan untuk menghantam TLKM agar pantas juga untuk dijual murah kepada asing?

Selling Indonesia by discount, can you tell me where my country wrong?

January 21, 2009 - Posted by | Stocks Analysis

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: