SMART Market

Inspiring for Smart Investing

Gobal Market Review dan Outlook 2009: Lower Outlook, Best Investment Opportunity

PERDANA WAHYU SANTOSA

feature_recession2Krisis finansial di AS yang dipicu oleh kegagalan subprime mortgage terus meluas dan belum menunjukkan indikator pemulihan yang berarti. Krisis ekonomi menjalar ke sektor vital seperti industri otomotif AS yang dimotori oleh tiga raksasa otomotif: General Motor Company, Ford Motor Company dan Chrysler Corp yang menyatakan diri memerlukan dana bailout dari pemerintah AS. Bursa Wall Street jatuh karena kasus potensi bangkrut perusahaan ini memicu kekhawatiran ekonomi AS yang semakin melemah. Goldman Sachs dan Merrill Lynch juga melaporkan kerugian besar pada 3Q08 setelah kebangkrutannya beberapa bulan lalu.

Melemahnya ekonomi AS juga telah menular ke Eropa dan Asia, terutama Jepang. Pertumbuhan GDP negara-negara G7 juga semakin menurun. Untuk 3Q08; Kanada hanya tumbuh +0,29%, Jerman turun -0,52%, Perancis naik +0,14, UK -0,49%, Italia mengalami penurunan terburuk -0,52%, Jepang jatuh -0,46%, sementara AS sendiri juga turun -0,13%. Buruknya pertumbuhan GDP ini akan terus berlanjut sampai akhir semster 1, 2009 dan World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya sekitar 0,9% saja.

Wall Street sendiri mengalami fluktuasi terus menerus dan masih sulit keluar dari situasi bearish. Indeks Dow Jones masih berkutat pada trading range 7.900-8.850 sepanjang 4Q08. Dow Jones masih mengalami kesulitan keluar dari wilayah bawah karena terus menerus harus merespon berita negatif yang masuk ke pasar. Buruknya indikator ekonomi maupun dampak pasca kerugian perusahaan dunia membuat indeks Dow Jones terus berada di bottom level-nya. Pelaku pasar tampaknya masih terus menganalisis berbagai data ekonomi 4Q08 dan terus mencermati pasar yang belum menunjukkan pemulihan berarti.

Memburuknya krisis ekonomi di AS memberikan dampak yang semakin serius di Asia, terutama ekonomi Jepang dan sebagian besar perekonomian di regional Asia. Profil risiko di negara Asia juga semakin meningkat dan kondisi likuiditas semakin ketat akibat berkurangnya kepercayaan di berbagai pasar di Asia. Indeks Nikkei di TSE mengalami penurunan yang tajam, bahkan terburuk dalam 5 tahun terakhir dimana pada pertengahan Desember, berada pada posisi 8.235 setelah sebelumnya sempat berada di bawah level 8.000 disertai turunnya nilai transaksi di bursa. Indeks Hang Seng juga mengalami penurunan terburuk sepanjang 2008 yaitu sekitar 62,92%, bahkan diprediksi dapat terus turun tergantung harga komoditas terutama crude oil.

Asian Development Bank (ADB) merilis prediksinya mengenai inflasi di negara-negara Asia untuk 2008 dan 2009, masing-masing dari sebelumnya 5,1% dan 4,6% menjadi 7,8% dan 6%. Outlook ekonomi negara-negara Asia untuk 2008 dan 2009 juga dipangkas ADB menjadi 7,7% dan 7,2%. GDP Indonesia sendiri diprediksi tumbuh pada kisaran 4,5% saja untuk periode 2009. Namap un Asia masih dapat berharap kepada kekuatan ekonomi China dan India yang terlihat tangguh dalam terpaan krisis global ini dengan estimasi pertumbuhan GDP sekitar 6-7% pada 2009 ini.

Penurunan harga minyak mentah (crude oil) dunia semakin dalam. Pada medio Desember 2009, harga minyak bahkan sudah menembus level psikologisnya USD40/barrel dan mencatatkan rekor terendah baru USD37,19/barrel. Beberapa skenario terburuk menyatakan bahwa trend harga minyak mungkin akan turun sampai USD25/barrel. Apabila skenario ini terjadi, maka bursa saham global akan mengalami penurunan berikutnya; indeks Dow Jones dapat berada pada level 7.000, dan bursa global akan mengikuti Wall Street. Para investor perlu dengan cermat mengamati pergerakan harga minyak ini.

Per 18 Desember 2008, OPEC memutuskan untuk memotong produksi 2,2 juta barrel per hari (bph), dan tindakan ini akan terus disesuaikan dengan pergerakan harga minyak dunia. Idealnya harga crude oil berkisar antara USD60-70/barrel sehingga diharapkan memicu pemulihan ekonomi yang cepat dan seimbang untuk menggairahkan pasar global.

Indonesia Market Outlook 1Q09-2Q09

Memasuki 2009, terdapat beberapa faktor yang perlu diwaspadai selain faktor-faktor fundamental perekonomian global di atas. Pertama, kondisi perekonomian AS, Eropa dan Jepang yang masih belum menentu. Kedua, belum stabilnya harga crude oil yang semakin volatile yang diikutii harga komoditas lainnya di bottom level nya. Menurut analisis supply-demand yang dilakukan CAPITAL PRICE tehadap komoditas minyak mentah ini kisaran harga minyak akan berada pada USD 40–USD 55/barrel pada kuartal I 2009 dan USD 60-70 pada kuartal II 2009.

Ketiga, potensi PHK masal yang mencapai 2-3 juta orang pada kuartal 1 dan 2, 2009 dan membutuhkan stimulus ekonomi bagi sektor riil. Keempat, kekhawatiran krisis sosial-politik pada Pemilu 2009 menjelang akhir 1Q09 dan 2Q09 akan menguat jika ada pihak-pihak mempolitisasi krisis ekonomi menjadi krisis sosial-politik. Kelima, menurunnya kinerja laporan kuartalan 1Q09 dan 2Q09 para emiten BEI terutama sektor perkebunan, pertambangan, properti, otomotif, perbankan dan lainnya. Nilai EPS saham-saham akan menjadi sangat rendah dan PER BEI akan berada di bawah 10x.

Permasalahan likuiditas makro yang ketat juga akan membuat ekonomi cenderung lesu, dan BEI akan kekurangan likuiditas sampai indikator makroekonomi menunjukan sinyal positif yang mampu memancing kepercayaan asing untuk masuk. Memang terdapat beberapa lonjakan IHSG akhir-akhir ini, namun belum disertai kenaikan volume yang memadai. Masalah likuiditas ini akan terus merongrong BEI sepanjang 1Q09 dan 2Q09 sehingga kenaikkan IHSG banyak menemui kendala.

Kabar baiknya adalah; dengan turunnya harga BBM, inflasi akibat dorongan biaya akan mereda. Dengan demikian, suku bunga di tahun 2009 berpotensi menurun menuju 8%. Sektor perbankan akan sedikit menggeliat mulai 2Q09 karena penurunan suku bunga patokan. Kendati begitu, turunnya BI rate bukan jaminan turunnya bunga kredit ke level terendah seperti terjadi pada awal tahun 2008. Pertumbuhan kredit perbankan sebagai akibat stimulus perekonomian di tahun 2009 menurut kami hanya mampu mencapai angka 10-15% sepanjang 2009 nanti. Pasalnya, krisis keuangan akan meningkatkan potensi kredit macet, penurunan daya beli, dan pemangkasan kapasitas produksi para debitornya.

Debt market termasuk SUN akan sedikit menggeliat dengan naiknya harga obligasi akibat turunnya BI rate. Yield-to-maturity SUN jangka menengah dan panjang berpotensi turun ke level 9%-11% di tahun 2009. Penurunan BI rate akan terus berlanggsung sepanjang angka inflasi terus turun atau bahkan deflasi karena rendahnya daya beli masyarakat. Ini membuat Debt market akan terus mempunyai harapan yang baik.

Sektor yang perlu dicermati terkait potensi turunnya harga minyak dunia adalah sektor berbasis komoditas dan pertambangan. Komoditas mining sangat tergantung harga minyak dunia dan mempunyai korealsi yang tinggi terutama metal dan CPO. Sektor konstruksi kemungkinan akan turun 30% sekalipun rencana pemerintah mengalokasikan dana besar untuk proyek infrastruktur skala nasional diiringi harapan BI rate yang terus turun.

Imbas dari proyek infrastruktur membuat emiten sektor semen masih dapat bertahan karena konsumsi semen yang relatif tetap dibarengi penurunan harga BBM dan batubara yang cukup besar sehingga efisiensi biaya produksi meningkat disertai ekspansi produksi mendekati economies of scale-nya. Sektor consumer goods sebagai defensive sector diperkirakan masih tetap bertahan terhadap terpaan krisis dan kinerja keuangannya tidak akan turun signifikan.

Namun demikian, kesuramam pasar modal ini diharapkan hanya berlangsung sementara, khususnya di 1Q09. Kuartal kedua (2Q09) akan mulai memperlihatkan konsolidasi untuk siap-siap mengalami tren naik dengan tetap memperhaitkan kinerja laporan keuangan, sehingga baru pada 3Q09, prospek pemulihan diprediksi akan mulai menemukan indikator positif fundamentalnya.

Kondisi krisis keuangan global ini justru menciptakan peluang besar bagi investasi jangka panjang (long-term investment) karena harga saham di peralihan tahun 2008-2009 relatif murah, dan pospek bisnis beberapa tahun ke depan yang sangat baik. Pergerakan jangka panjang IHSG akan kembali memberikan return normal sekitar 15%-20% per tahun, bahkan lebih untuk beberapa sektor tertentu seperti perkebunan dan pertambangan seiring dengan pertumbuhan harga komoditas dan meningkatnya nominal GDP Indonesia.

Skenario outlook ini tergantung kepada seberapa cepat ekonomi global khusunya AS, Eropa dan Jepang dapat pulih kembali dan kenaikan harga crude oil dan komoditas andalan lainnya.

Artikel ini pernah dimuat harian Bisnis Indonesia dan menjadi materi Talk Show di PAS FM pada 5 Januari 2009

Perdana Wahyu Santosa – Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE
Research Center for Capital Market, Portfolio Investment, Corporate Finance and Economics

January 21, 2009 - Posted by | Market Analysis

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: