SMART Market

Inspiring for Smart Investing

London Sumatera Indonesia Plantation: Excellent Value Manager

capitalPERDANA WAHYU SANTOSA
Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE

Artikel ini pernah dimuat di Harian Bisnis Indonesia hal F2 dan menjadi materi Talk Show di PAS FM 92.4 Mhz pada Senin, 16 Februari 2009.

PROFIL EMITEN

Pada tahun 1906, Harrison & Crossfield Plc mendirikan PT. London Sumatera Indonesia Plantation, Tbk (LSIP), sebuah perusahaan perkebunan dan perdagangan yang berbasis di London dan tercatat di BEI tahun 1996. LSIP bergerak di bidang industri perkebunan kelapa sawit, karet, kakao, kelapa, teh dan kopi, serta mengolah hasil perkebunan dan memasarkan produknya, dengan proporsi lokal dan ekspor masing-masing sebesar 67% dan 33% (2007: 70% dan 30%).

LSIP memiliki 20 pabrik kelapa sawit (PKS) tersebar di seluruh Indonesia yang mencakup kapasitas proses sebesar 360 ton per jamnya. Kapasistas Penggunaan PKS mencapai 60% di Sumatra Utara melebihi 55% di Sumatra Selatan yang mempengaruhi pembelanjaan modal LSIP sampai 30 September 2008 untuk tanaman sebesar Rp. 269 miliar yang terdiri dari: penanaman kelapa sawit (5.037 Ha), penanaman karet (1.501 Ha), akuisisi lahan (5.807 Ha) dan bukan tanaman sekitar Rp 270 miliar.

Kemudian, pada 28 Mei 2007, Indofood Agri Resources Ltd (Grup IndoAgri) yang merupakan anak perusahaan PT Indofood Sukses Makmur (INDF) mengakuisisi 64,4% saham LSIP. Grup IndoAgri sendiri merupakan perusahaan perkebunan yang terintegrasi pada minyak goreng, margarin dan shortenings dengan merek terkemuka. Sebelumya, pada 31 Maret 2007, Grup IndoAgri memiliki lahan perkebunan sekitar 224.083 Ha, diantaranya sekitar 74.878 Ha telah ditanami kelapa sawit dengan jaringan pemasaran seluruh Indonesia dan luar negeri meliputi: Asia, Eropa, dan Amerika.

PROFIL SEKTOR

Sektor perkebunan sawit dan karet yang digeluti LSIP penuh dengan persaingan terutama pada saat harga CPO anjlok seperti saat ini akibat krisis ekonomi global. Beberapa pemain perkebunan sekaligus emiten di BEI seperti AALI, SGRO, UNSP dan TBLA juga beroperasi pada pasar yang relatif sama.

Perluasan area perkebunan dan efisiensi biaya produksi menjadi kunci suksesnya LSIP menghadapi pesaing-pesaing potensialnya. Posisi penantang (chalenger) dalam struktur pasar harus dapat dipertahankan melalui strategi yang tepat namun fleksibel dalam menghadapi perubahan ekonomi yang cepat dan tak terduga.

Adanya penerapan program sertifikasi dari pembeli dari Eropa akan meningkatkan prospek sektor perkebunan ini. Mengingat Indonesia sebagai salah satu produsen CPO terbesar di dunia akan memiliki daya tawar yang lebih baik lagi melalui produk CPO bersertifikat.

HIGHLIGHT 2002-2009

Kenaikan harga minyak mentah dunia pada 2007 mendongkrak sektor komoditas, termasuk crude palm oil (CPO) dan harga saham LSIP melonjak ke level Rp 12.000 an namun dengan adanya krisis ekonomi ini menjadi Rp 3.600 pada penutupan perdagangan 11 Februari 2009. Sepanjang tahun 2002-2008, perusahaan meningkatkan sales dengan CAGR sebesar 21,45% dan profitabilitas LSIP meningkat dengan CAGR 24,87% untuk operating profit dan hanya 2,42% untuk net income.

Pertumbuhan rata-rata tahunan Total Equity mencapai 66,93% dan Total Assets 18,49%. Hal ini menunjukan pertumbuhan Net Income yang rendah dan tidak proporsional dibanding growth sales-nya karena adanya biaya kurang efisien dan cost of capital yang tinggi. Sepanjang tahun 2002-2007, Return on Equity (ROE) cukup fluktuatif sebesar 24,36%, Cost of Capital (COC) meningkat pada level tertinggi sebesar 15,05%, Return on Invested Capital (ROIC) berfluktuasi 14,77% dan Economic Value Added (EVA) pada level tertinggi sebesar 34,47%.

Penurunan DAR ini berpotensi menurunkan beban keuangan dan resiko jangka panjang LSIP terhadap cost of capital sehingga profitabilitasnya akan tumbuh dengan baik. LSIP mempunyai saldo laba bersih posisi 30-09-2008 sebesar Rp. 1,503 triliun dan Total Assset hingga Rp. 4,7 triliun. Pengunaan saldo laba bersih untuk buy back sekitar Rp. 728 miliar dan tidak akan menyebabkan kekayaan bersih perseroan menjadi lebih kecil dari jumlah modal disetor (paid in capital) ditambah cadangan wajib yang telah disisihkan.

Market Value Added (MVA) dan MARKET RISK

Kinerja saham LSIP meningkat sepanjang April 2003-April 2008 yang diiringi dengan fluktuasi pada shareholder Market Value Added (MVA) terhadap equity Book Value (BV) hingga mencapai 374,50%. Rata-rata return (annualized) saham perusahaan juga berfluktuasi hingga mencapai 48,73% di bulan April 2008.

Namun, Market Risk yang merupakan ukuran fluktuasi harga saham relatif terhadap fluktuasi keseluruhan pasar IHSG bergerak pada level 1 hingga 1,3. Sementara tingkat volatilitas harga saham perusahaan bergerak stabil pada level 40% sejak April 2005.

MARKET PERCEPTION MAP 2008

Selain mempertimbangkan kondisi makroekonomi, mikroekonomi, dan analisis fundamendal keuangan (seperti PER, PBV, EPS, ROE, NPM, DCFA), dan rasio-rasio lainnya ternyata terdapat faktor penting lainnya dalam proses pengambilan keputusan investasi yaitu persepsi pasar (market perception) terhadap emiten itu sendiri.

Market Perception merupakan konsensus pasar sebagai hasil analisis para investor terhadap kinerja keuangan saat ini dan peluang bisnis emiten di masa depan dan kredibilitas manajemen yang berpotensi besar dalam pembentukan dan pergerakan harga saham. Tim riset CAPITAL PRICE meng-‘kuantifikasi’ unsur kualitatif yang melekat dari persepsi pasar tersebut menjadi sebuah market perception map yang mudah dipahami

Market Perception map 2008 memvisualisasikan posisi perusahaan LSIP melalui CP (current performance) index dan FGO (future growth opportunity) index relatif terhadap perusahaan-perusahaan lain pada tahun 2008. Manajemen LSIP juga dinilai cukup kredibel oleh pasar terlebih pascaakuisisi oleh INDF. Pangsa pasar domestik LSIP semakin terbuka karena kemampuan penetrasi yang lebih baik lagi akibat bersinergi dengan jaringan distribusi INDF yang kuat.

Penilaian pasar terhadap profitabilitas LSIP dalam jangka pendek (CP) tahun 2008 di atas rata-rata emiten-emiten lainnya, karena penurunan harga CPO dinilai temporari saja. Sedangkan ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan bisnis LSIP di masa depan (FGO) berada di atas rata-rata perusahaan lainnya. Kesimpulan CAPITAL PRICE terhadap LSIP adalah Excellent Value Manager sebagai persepsi pasar yang baik terhadap emiten perkebunan ini.

AKSI KORPORASI

LSIP melakukan buy back pada dua transaksi yang berbeda; transaksi pertama pada 13 November 2008 lalu membeli 377.500 saham dengan harga Rp. 2.142,17 per saham dan mengeluarkan dana sebesar Rp.801,87 juta, dibantu oleh Indopremier Securities, yang bertindak sebagai pelaksana buy back.
Sementara aksi buy back kedua LSIP pada 16 November 2008 dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan jumlah saham yang dibeli LSIP sebanyak 2.768.000 saham yang dibeli dengan harga Rp 2.251,31 per saham. LSIP telah menggunakan dana sebesar Rp 6,23 miliar, sehingga total saham yang dibeli sebesar 3.145.500 saham dengan nilai transaksi Rp 7,03 miliar dan menganggarkan dana sebesar Rp. 627,7 miliar untuk buy back saham, di mana jumlah maksimal saham yang bakal di buy back sebanyak 20%.

LSIP juga mengakusisi sekaligus tiga perusahaan kelapa sawit yaitu Tani Musi Persada (20.000 Ha), Tani Andalas Persada (10.000 Ha) dan Sumatra Agri Sejahtera (16,000) senilai Rp. 48 milyar . Pada tahun 2008, LSIP juga mengalokasikan dana US$ 100 juta untuk membiayai ekspansi seperti pembangunan pabrik kelapa sawit di sejumlah lokasi perkebunannya. Disamping itu, LSIP juga berencana mengembangkan lahan sawit di Sumatra Selatan hingga 46.000 Ha. Pada tahun 2009 LSIP menargetkan pertumbuhan produksi Crude Palm Oil (CPO) meningkat sebesar 10% dari realisasi tahun sebelumnya. Pencapaian produksi tersebut dilakukan dengan mengacu kriteria yang ditetapkan dalam Roundtable for Suistainable Palm Oil (RSPO) atau lebih dikenal dengan minyak sawit lestari.

Berdasarkan strategi yang dilakukan, diharapkan lima tahun ke depan, LSIP memperoleh dua keuntungan, yakni: harga jual CPO yang tinggi dan biaya produksi yang efisien dibanding perusahaan lainnya. Rencana pengambilalihan dapat memperkuat bisnis model perkebunan Grup IndoAgri, antara lain: mengembangkan usaha inti perkebunan, memperluas lahan dan perkebunan yang telah ditanami dengan kelapa sawit, meningkatkan produksi, memenuhi kebutuhan internal untuk CPO dan menjadi produsen atas bibit kelapa sawit unggul.

Realisasi rencana jangka panjang Grup IndoAgri memiliki 250.000 Ha perkebunan kelapa sawit. Total lahan perkebunan dan total lahan yang telah ditanami kelapa sawit meningkat sekitar 387.483 Ha dan 138.081 Ha. Secara keseluruhan luas lahan yang telah ditanami sekitar 165.000 Ha termasuk tanaman karet dan tanaman lainnya.

Ditulis bersama YULIANTINA SOFIAN (Financial Research Analyst-CAPITAL PRICE)

March 4, 2009 - Posted by | Stocks Analysis

1 Comment »

  1. now I’ll be tuned..

    Comment by jelskash | May 23, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: