SMART Market

Inspiring for Smart Investing

Indosat with Neutral Market Perception

PERDANwahyu-marriotA WAHYU SANTOSA (Chief Knowledge Officer-CAPITAL PRICE)

Artikel ini pernah dimuat di Harian Bisnis Indonesia hal F2 dan menjadi materi Talk Show di PAS FM 92.4 Mhz pada 9 Januari 2009

Profil Emiten

PT Indonesian Satellite Corporation Tbk. (ISAT) didirikan pada tahun 1967 sebagai Perusahaan Modal Asing, dan memulakan operasinya pada tahun 1969. Pada tahun 1980 ISAT menjadi BUMN dimana seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Hingga sekarang, ISAT menyediakan layanan telekomunikasi internasional seperti SLI, selular, internet dan layanan transmisi TV antar bangsa.

ISAT adalah perusahaan telekomunikasi dan multimedia terbesar kedua di Indonesia untuk jasa seluler ( Satelindo, IM3 dan Star One) setelah Telkom. Saat ini, komposisi kepemilikan saham Indosat adalah: publik adalah sekitar 44,91%, Qtel memiliki 40,8%, dan Pemerintah sendiri memiliki saham ISAT sebanyak 14,29% dimana saham ISAT termasuk blue chip.

Profil Sektor

Sektor telekomunikasi pada tahun 2009 ini diprediksi masih dapat tumbuh sebesar 4-6%, walaupun terkena dampak krisis global. Untuk pelanggan telepon tiap tahun cenderung meningkat baik untuk telepon tetap maupun telepon selular. Pelanggan telepon tetap 2006 sebanyak 14,8 juta, pada 2007 sebanyak 19,5 juta, dan 2008 menjadi 20,6 juta. Sedangkan pelanggan selular tahun 2006 sebanyak 63,8 juta, pada 2007 sebanyak 93,3 juta dan 2008 sebanyak 124,8 juta (tumbuh 55,49 persen).

Sejak November 2008, perang tarif antar operator mulai menurun. Bahkan pada akhir tahun lalu beberapa operator mulai menaikkan tarif, baik on net (dalam satu operator) maupun off net (antar operator). Namun potensi perang tarif antar operator kembali berlanjut. Seperti aksi XL menurunkan tarif on net sejak 7 Januari 2009 sebesar 25% pada peak hour. Juga promo Esia yang menurunkan tarif off net 25% maksimum 5 nomor baik GSM maupun CDMA. Operator lain, masih mempertahankan bahkan menaikkan tarif off net.

Beberapa alasan perang tarif akan kembali marak karena melambatnya pertumbuhan pendapatan di sektor telekomunikasi. Hal ini disebabkan terus turunnya daya beli masyarakat dan melambatnya penetrasi pelanggan akibat krisis ekonomi global.

Highlight 2002-2009

Saham ISAT pada penutupan perdagangan 3 Februari 2009 berada pada level Rp.5650, dengan volume perdagangan sebesar 4 juta lembar saham dengan transaksi Rp 22 miliar lebih. Pergerakan saham ISAT diprediksi naik karena tender offer saham ISAT oleh Qtel pada harga Rp. 7.388 per lembarnya.

Kinerja saham ISAT selama tahun 2002-2007 cenderung meningkat dan menunjukkan sinyal uptrend dan ISAT mencapai level tertinggi sebesar Rp 9.900 pada tanggal 13 November 2007, dengan nilai transaksi sebesar Rp 107 miliar.

Sepanjang tahun 2002-2007, dari lima indikator keuangan utama (sales, operating profit, Net Income, Total Equity dan Total Assets) perusahaan ISAT mampu meningkatkan sales dengan rata-rata pertumbuhan per tahun (CAGR) sebesar 19,50%, bahkan pada tahun 2007 perusahaan berhasil mencatat pertumbuhan sales tertinggi 34,72% dibandingkan dengan 5 tahun terakhir yang berkisar antara 5%-28%. Profitabilitas perusahaan juga meningkat dengan CAGR sebesar 18,78% untuk operating profit dan 43,44% untuk net income.

Sales & Profit

Kinerja keuangan ISAT hingga kuartal III 2008 selalu meningkat dan menunjukkan tren positif, ini ditandai dengan pertumbuhan sales sebesar 14,89% (Rp. 13 triliun lebih) dibandingkan pada kuartal III 2007 (Rp. 11 triliun lebih). Pertumbuhan penjualan (Sales Growth) ISAT meningkat signifikan pada 2007 sebesar 34,72% dibandingkan 2006. Profitabilitas ISAT pada 2008 mengalami pertumbuhan tipis seiring dengan pertumbuhan sales, terlihat operating profit tumbuh sebesar 4,02% dan net income tumbuh sebesar 1,94% dibandingkan 2007.

Sedangkan net profit margin (NPM) meningkat selama periode 2002-2007. Semua ini menunjukkan bahwa ISAT terus berusaha meningkatkan sales dan efisiensi sehingga profitabilitas ISAT meningkat, dengan cara memperluas market share melalui penambahan asset (BTS) seiring dengan meningkatnya target pelanggan ISAT.

Bisnis seluler memberikan kontribusi 74,9% dari sales perusahaan, bisnis MIDI (multimedia, komunikasi data, dan internet) berkontribusi 15,54%, sisanya berasal dari bisnis telepon tetap.

Asset & Equity

Selama 2002-2006, debt- to-assets ratio (DAR) ISAT stabil berada pada kisaran 51-57%, kecuali 2007 yang mencapai 63,48%. Indikasi ini menunjukkan melonjaknya total asset pada 2007 sebesar Rp.45 triliun lebih dari 2006 yang hanya sebesar Rp. 34 triliun atau tumbuh sebesar 32,36%. Pendanaannya berasal dari utang korporasi. Struktur modal seperti ini membebani keuangan ISAT dan meningkatkan resiko cost of capital apabila ISAT target sales tidak tercapai.

ISAT memiliki utang sebesar Rp. 500 miliar yang jatuh tempo pada 2009 ini kepada PT Bank Mandiri Tbk dan PT BCA Tbk, untuk itu ISAT telah telah mempersiapkan dana dari kas internal untuk membayarnya. Kenaikan total asset ISAT seiring dengan kenaikan total equity namun pertumbuhannya tidak sebanding total assets. Total equity ISAT tumbuh sebesar 8,83% (2006-2007), ini menunjukan bahwa manajemen ISAT mampu memaksimalkan modal yang dimiliki untuk menambah asset guna memicu sales dan menciptakan profitabilitas yang lebih tinggi.

MVA & Market Risk

Kinerja saham ISAT terus meningkat sepanjang April 2005-April 2008, ditunjukkan melalui peningkatan shareholder market value added (MVA) terhadap equity book value (BV) yang sebelumnya mencapai 126,63% (April 2007) dan April 2008 lebih dari 127,28%. MVA/BV adalah selisih antara harga saham (market value) perusahaan dengan nilai buku ekuitas (book value). Nilai MVA/BV yang positif memberikan indikasi ISAT mampu memberikan nilai tambah terhadap nilai buku ekuitasnya. Makin tinggi nilai MVA makin baik sahamnya.

Di tengah penurunan market (IHSG) selama periode April 2007-April 2008 MVA ISAT cenderung stabil karena market risk (Beta) ISAT mulai menurun sejak April 2006 hingga mencapai di bawah 1. Market risk ISAT dalam kurun waktu April 2002-April 2006 berkisar antar 1,00-1,33, dan menurun pada April 2007 (0,87) dan April 2008 (0,80). Market risk (koefisien beta) menggambarkan risiko yang terkait dengan pergerakan pasar, atau risiko sistematis. Market risk yang bernilai lebih dari 1 mengindikasikan harga saham perusahaan berfluktuasi lebih besar dibandingkan fluktuasi pasar. Tingkat volatilitas harga saham perusahaan selama April 2004-April 2007 cenderung stabil di kisaran 32%-38%, kemudian meningkat 91,75% pada April 2008

Market Perception Map 2008

Selain mempertimbangkan kondisi makroekonomi, mikroekonomi, dan analisis fundamendal keuangan (seperti PER, PBV, EPS, ROE, NPM), terdapat faktor penting dalam proses pengambilan keputusan investasi yaitu persepsi pasar (market perception).

Market Perception merupakan konsensus pasar sebagai hasil analisis para investor terhadap kinerja emiten saat ini dan peluang bisnis di masa depan yang berpotensi besar dalam pembentukan dan pergerakan harga saham. Tim riset CAPITAL PRICE meng-‘kuantifikasi’ unsur kualitatif yang melekat dari persepsi pasar tersebut menjadi sebuah market perception map yang mudah dipahami

Market Perception map 2008 memvisualisasikan letak perusahaan terkait dengan CP index dan FGO index relatif terhadap perusahaan-perusahaan lain pada tahun 2008 (April 2008). Ekspektasi pasar terhadap profitabilitas ISAT dalam jangka pendek (CP) pada tahun 2008 hampir sama dengan rata-rata perusahaan lainnya, sedangkan ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan ISAT di masa depan (FGO) juga tidak jauh berbeda dengan perusahaan lainnya.

Persepsi pasar terhadap saham BUMN ISAT ini berkualifikasi netral.

Recent Development

Qtel telah memastikan untuk melakukan tender offer atas 1,31 miliar saham dengan harga Rp 7.388 per sahamnya atau setara 24,19% emiten bersandi ISAT tersebut. Total dana yang dikeluarkan untuk tender offer ini sekitar Rp 8 triliun. Apabila program tender saham berlangsung mulus, Qtel akan menggenggam 65% saham Indosat, karena sebelumnya Qtel sudah memiliki saham Indosat sebesar 40,8% yang di akuisisi dari Singapore Technologies Telemedia senilai US$ 1,8 miliar atau Rp 16,8 triliun. Pada penutupan transaksi perdagangan kemarin, harga saham Indosat justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,88% menjadi Rp 5.650 per saham.

Business Outlook

Potensi pertumbuhan di industri seluler masih tinggi, dari 220 juta penduduk Indonesia dewasa ini baru sekitar 28 juta nomor seluler yang beredar (13%) sehingga pasarnya masih terbuka lebar. Kesempatan penetrasi ponsel masih besar, yaitu lebih dari 30 juta pengguna internet mobile dari lebih dari 120 juta pengguaan seluler.

ISAT mentargetkan dapat 200.000 pengguna pita lebar bergerak (mobile broadband) 3,5G dengan diluncurkannya modem mobile 3,5G Indosat berkecepatan unduh (downlink) 14,4 Mbps berteknologi High Speed Packet Access (HSPA). Pada tahun 2010 penetrasi broadband mencapai sekitar 2% dengan potensi pendapatan US$900 juta. Semua ini dapat memberi dampak positif bagi kinerja ISAT dimasa depan khususnya sales dan profitabilitas, sehingga dalam jangka panjang potensi ISAT masih baik.

Ditulis bersama DEDDY ERTANTO (Financial Research Analyst-CAPITAL PRICE)

March 14, 2009 - Posted by | Growth Investing, Stocks Analysis

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: