SMART Market

Inspiring for Smart Investing

Indosat with Neutral Market Perception

Continue reading

March 14, 2009 Posted by | Growth Investing, Stocks Analysis | Leave a comment

London Sumatera Indonesia Plantation: Excellent Value Manager

capitalPERDANA WAHYU SANTOSA
Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE

Artikel ini pernah dimuat di Harian Bisnis Indonesia hal F2 dan menjadi materi Talk Show di PAS FM 92.4 Mhz pada Senin, 16 Februari 2009.

PROFIL EMITEN

Pada tahun 1906, Harrison & Crossfield Plc mendirikan PT. London Sumatera Indonesia Plantation, Tbk (LSIP), sebuah perusahaan perkebunan dan perdagangan yang berbasis di London dan tercatat di BEI tahun 1996. LSIP bergerak di bidang industri perkebunan kelapa sawit, karet, kakao, kelapa, teh dan kopi, serta mengolah hasil perkebunan dan memasarkan produknya, dengan proporsi lokal dan ekspor masing-masing sebesar 67% dan 33% (2007: 70% dan 30%).

LSIP memiliki 20 pabrik kelapa sawit (PKS) tersebar di seluruh Indonesia yang mencakup kapasitas proses sebesar 360 ton per jamnya. Kapasistas Penggunaan PKS mencapai 60% di Sumatra Utara melebihi 55% di Sumatra Selatan yang mempengaruhi pembelanjaan modal LSIP sampai 30 September 2008 untuk tanaman sebesar Rp. 269 miliar yang terdiri dari: penanaman kelapa sawit (5.037 Ha), penanaman karet (1.501 Ha), akuisisi lahan (5.807 Ha) dan bukan tanaman sekitar Rp 270 miliar.

Kemudian, pada 28 Mei 2007, Indofood Agri Resources Ltd (Grup IndoAgri) yang merupakan anak perusahaan PT Indofood Sukses Makmur (INDF) mengakuisisi 64,4% saham LSIP. Grup IndoAgri sendiri merupakan perusahaan perkebunan yang terintegrasi pada minyak goreng, margarin dan shortenings dengan merek terkemuka. Sebelumya, pada 31 Maret 2007, Grup IndoAgri memiliki lahan perkebunan sekitar 224.083 Ha, diantaranya sekitar 74.878 Ha telah ditanami kelapa sawit dengan jaringan pemasaran seluruh Indonesia dan luar negeri meliputi: Asia, Eropa, dan Amerika.

PROFIL SEKTOR

Sektor perkebunan sawit dan karet yang digeluti LSIP penuh dengan persaingan terutama pada saat harga CPO anjlok seperti saat ini akibat krisis ekonomi global. Beberapa pemain perkebunan sekaligus emiten di BEI seperti AALI, SGRO, UNSP dan TBLA juga beroperasi pada pasar yang relatif sama.

Perluasan area perkebunan dan efisiensi biaya produksi menjadi kunci suksesnya LSIP menghadapi pesaing-pesaing potensialnya. Posisi penantang (chalenger) dalam struktur pasar harus dapat dipertahankan melalui strategi yang tepat namun fleksibel dalam menghadapi perubahan ekonomi yang cepat dan tak terduga.

Adanya penerapan program sertifikasi dari pembeli dari Eropa akan meningkatkan prospek sektor perkebunan ini. Mengingat Indonesia sebagai salah satu produsen CPO terbesar di dunia akan memiliki daya tawar yang lebih baik lagi melalui produk CPO bersertifikat.

HIGHLIGHT 2002-2009

Kenaikan harga minyak mentah dunia pada 2007 mendongkrak sektor komoditas, termasuk crude palm oil (CPO) dan harga saham LSIP melonjak ke level Rp 12.000 an namun dengan adanya krisis ekonomi ini menjadi Rp 3.600 pada penutupan perdagangan 11 Februari 2009. Sepanjang tahun 2002-2008, perusahaan meningkatkan sales dengan CAGR sebesar 21,45% dan profitabilitas LSIP meningkat dengan CAGR 24,87% untuk operating profit dan hanya 2,42% untuk net income.

Pertumbuhan rata-rata tahunan Total Equity mencapai 66,93% dan Total Assets 18,49%. Hal ini menunjukan pertumbuhan Net Income yang rendah dan tidak proporsional dibanding growth sales-nya karena adanya biaya kurang efisien dan cost of capital yang tinggi. Sepanjang tahun 2002-2007, Return on Equity (ROE) cukup fluktuatif sebesar 24,36%, Cost of Capital (COC) meningkat pada level tertinggi sebesar 15,05%, Return on Invested Capital (ROIC) berfluktuasi 14,77% dan Economic Value Added (EVA) pada level tertinggi sebesar 34,47%.

Penurunan DAR ini berpotensi menurunkan beban keuangan dan resiko jangka panjang LSIP terhadap cost of capital sehingga profitabilitasnya akan tumbuh dengan baik. LSIP mempunyai saldo laba bersih posisi 30-09-2008 sebesar Rp. 1,503 triliun dan Total Assset hingga Rp. 4,7 triliun. Pengunaan saldo laba bersih untuk buy back sekitar Rp. 728 miliar dan tidak akan menyebabkan kekayaan bersih perseroan menjadi lebih kecil dari jumlah modal disetor (paid in capital) ditambah cadangan wajib yang telah disisihkan.

Market Value Added (MVA) dan MARKET RISK

Kinerja saham LSIP meningkat sepanjang April 2003-April 2008 yang diiringi dengan fluktuasi pada shareholder Market Value Added (MVA) terhadap equity Book Value (BV) hingga mencapai 374,50%. Rata-rata return (annualized) saham perusahaan juga berfluktuasi hingga mencapai 48,73% di bulan April 2008.

Namun, Market Risk yang merupakan ukuran fluktuasi harga saham relatif terhadap fluktuasi keseluruhan pasar IHSG bergerak pada level 1 hingga 1,3. Sementara tingkat volatilitas harga saham perusahaan bergerak stabil pada level 40% sejak April 2005.

MARKET PERCEPTION MAP 2008

Selain mempertimbangkan kondisi makroekonomi, mikroekonomi, dan analisis fundamendal keuangan (seperti PER, PBV, EPS, ROE, NPM, DCFA), dan rasio-rasio lainnya ternyata terdapat faktor penting lainnya dalam proses pengambilan keputusan investasi yaitu persepsi pasar (market perception) terhadap emiten itu sendiri.

Market Perception merupakan konsensus pasar sebagai hasil analisis para investor terhadap kinerja keuangan saat ini dan peluang bisnis emiten di masa depan dan kredibilitas manajemen yang berpotensi besar dalam pembentukan dan pergerakan harga saham. Tim riset CAPITAL PRICE meng-‘kuantifikasi’ unsur kualitatif yang melekat dari persepsi pasar tersebut menjadi sebuah market perception map yang mudah dipahami

Market Perception map 2008 memvisualisasikan posisi perusahaan LSIP melalui CP (current performance) index dan FGO (future growth opportunity) index relatif terhadap perusahaan-perusahaan lain pada tahun 2008. Manajemen LSIP juga dinilai cukup kredibel oleh pasar terlebih pascaakuisisi oleh INDF. Pangsa pasar domestik LSIP semakin terbuka karena kemampuan penetrasi yang lebih baik lagi akibat bersinergi dengan jaringan distribusi INDF yang kuat.

Penilaian pasar terhadap profitabilitas LSIP dalam jangka pendek (CP) tahun 2008 di atas rata-rata emiten-emiten lainnya, karena penurunan harga CPO dinilai temporari saja. Sedangkan ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan bisnis LSIP di masa depan (FGO) berada di atas rata-rata perusahaan lainnya. Kesimpulan CAPITAL PRICE terhadap LSIP adalah Excellent Value Manager sebagai persepsi pasar yang baik terhadap emiten perkebunan ini.

AKSI KORPORASI

LSIP melakukan buy back pada dua transaksi yang berbeda; transaksi pertama pada 13 November 2008 lalu membeli 377.500 saham dengan harga Rp. 2.142,17 per saham dan mengeluarkan dana sebesar Rp.801,87 juta, dibantu oleh Indopremier Securities, yang bertindak sebagai pelaksana buy back.
Sementara aksi buy back kedua LSIP pada 16 November 2008 dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan jumlah saham yang dibeli LSIP sebanyak 2.768.000 saham yang dibeli dengan harga Rp 2.251,31 per saham. LSIP telah menggunakan dana sebesar Rp 6,23 miliar, sehingga total saham yang dibeli sebesar 3.145.500 saham dengan nilai transaksi Rp 7,03 miliar dan menganggarkan dana sebesar Rp. 627,7 miliar untuk buy back saham, di mana jumlah maksimal saham yang bakal di buy back sebanyak 20%.

LSIP juga mengakusisi sekaligus tiga perusahaan kelapa sawit yaitu Tani Musi Persada (20.000 Ha), Tani Andalas Persada (10.000 Ha) dan Sumatra Agri Sejahtera (16,000) senilai Rp. 48 milyar . Pada tahun 2008, LSIP juga mengalokasikan dana US$ 100 juta untuk membiayai ekspansi seperti pembangunan pabrik kelapa sawit di sejumlah lokasi perkebunannya. Disamping itu, LSIP juga berencana mengembangkan lahan sawit di Sumatra Selatan hingga 46.000 Ha. Pada tahun 2009 LSIP menargetkan pertumbuhan produksi Crude Palm Oil (CPO) meningkat sebesar 10% dari realisasi tahun sebelumnya. Pencapaian produksi tersebut dilakukan dengan mengacu kriteria yang ditetapkan dalam Roundtable for Suistainable Palm Oil (RSPO) atau lebih dikenal dengan minyak sawit lestari.

Berdasarkan strategi yang dilakukan, diharapkan lima tahun ke depan, LSIP memperoleh dua keuntungan, yakni: harga jual CPO yang tinggi dan biaya produksi yang efisien dibanding perusahaan lainnya. Rencana pengambilalihan dapat memperkuat bisnis model perkebunan Grup IndoAgri, antara lain: mengembangkan usaha inti perkebunan, memperluas lahan dan perkebunan yang telah ditanami dengan kelapa sawit, meningkatkan produksi, memenuhi kebutuhan internal untuk CPO dan menjadi produsen atas bibit kelapa sawit unggul.

Realisasi rencana jangka panjang Grup IndoAgri memiliki 250.000 Ha perkebunan kelapa sawit. Total lahan perkebunan dan total lahan yang telah ditanami kelapa sawit meningkat sekitar 387.483 Ha dan 138.081 Ha. Secara keseluruhan luas lahan yang telah ditanami sekitar 165.000 Ha termasuk tanaman karet dan tanaman lainnya.

Ditulis bersama YULIANTINA SOFIAN (Financial Research Analyst-CAPITAL PRICE)

March 4, 2009 Posted by | Stocks Analysis | 1 Comment

PT INDOSAT Tbk (ISAT): Neutral Market Perception

cover-capital-market-trends1PERDANA WAHYU SANTOSA (Chief Knowledge Officer-CAPITAL PRICE)

Artikel ini pernah dimuat di Harian Bisnis Indonesia hal F2 dan menjadi materi Talk Show di PAS FM 92.4 Mhz pada 9 Januari 2009

Profil Emiten

PT Indonesian Satellite Corporation Tbk. (ISAT) didirikan pada tahun 1967 sebagai Perusahaan Modal Asing, dan memulakan operasinya pada tahun 1969. Pada tahun 1980 ISAT menjadi BUMN dimana seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Hingga sekarang, ISAT menyediakan layanan telekomunikasi internasional seperti SLI, selular, internet dan layanan transmisi TV antar bangsa.

ISAT adalah perusahaan telekomunikasi dan multimedia terbesar kedua di Indonesia untuk jasa seluler ( Satelindo, IM3 dan Star One) setelah Telkom. Saat ini, komposisi kepemilikan saham Indosat adalah: publik adalah sekitar 44,91%, Qtel memiliki 40,8%, dan Pemerintah sendiri memiliki saham ISAT sebanyak 14,29% dimana saham ISAT termasuk blue chip.

Profil Sektor

Sektor telekomunikasi pada tahun 2009 ini diprediksi masih dapat tumbuh sebesar 4-6%, walaupun terkena dampak krisis global. Untuk pelanggan telepon tiap tahun cenderung meningkat baik untuk telepon tetap maupun telepon selular. Pelanggan telepon tetap 2006 sebanyak 14,8 juta, pada 2007 sebanyak 19,5 juta, dan 2008 menjadi 20,6 juta. Sedangkan pelanggan selular tahun 2006 sebanyak 63,8 juta, pada 2007 sebanyak 93,3 juta dan 2008 sebanyak 124,8 juta (tumbuh 55,49 persen).

Sejak November 2008, perang tarif antar operator mulai menurun. Bahkan pada akhir tahun lalu beberapa operator mulai menaikkan tarif, baik on net (dalam satu operator) maupun off net (antar operator). Namun potensi perang tarif antar operator kembali berlanjut. Seperti aksi XL menurunkan tarif on net sejak 7 Januari 2009 sebesar 25% pada peak hour. Juga promo Esia yang menurunkan tarif off net 25% maksimum 5 nomor baik GSM maupun CDMA. Operator lain, masih mempertahankan bahkan menaikkan tarif off net.

Beberapa alasan perang tarif akan kembali marak karena melambatnya pertumbuhan pendapatan di sektor telekomunikasi. Hal ini disebabkan terus turunnya daya beli masyarakat dan melambatnya penetrasi pelanggan akibat krisis ekonomi global.

Highlight 2002-2009

Saham ISAT pada penutupan perdagangan 3 Februari 2009 berada pada level Rp.5650, dengan volume perdagangan sebesar 4 juta lembar saham dengan transaksi Rp 22 miliar lebih. Pergerakan saham ISAT diprediksi naik karena tender offer saham ISAT oleh Qtel pada harga Rp. 7.388 per lembarnya.

Kinerja saham ISAT selama tahun 2002-2007 cenderung meningkat dan menunjukkan sinyal uptrend dan ISAT mencapai level tertinggi sebesar Rp 9.900 pada tanggal 13 November 2007, dengan nilai transaksi sebesar Rp 107 miliar.

Sepanjang tahun 2002-2007, dari lima indikator keuangan utama (sales, operating profit, Net Income, Total Equity dan Total Assets) perusahaan ISAT mampu meningkatkan sales dengan rata-rata pertumbuhan per tahun (CAGR) sebesar 19,50%, bahkan pada tahun 2007 perusahaan berhasil mencatat pertumbuhan sales tertinggi 34,72% dibandingkan dengan 5 tahun terakhir yang berkisar antara 5%-28%. Profitabilitas perusahaan juga meningkat dengan CAGR sebesar 18,78% untuk operating profit dan 43,44% untuk net income.

Sales & Profit

Kinerja keuangan ISAT hingga kuartal III 2008 selalu meningkat dan menunjukkan tren positif, ini ditandai dengan pertumbuhan sales sebesar 14,89% (Rp. 13 triliun lebih) dibandingkan pada kuartal III 2007 (Rp. 11 triliun lebih). Pertumbuhan penjualan (Sales Growth) ISAT meningkat signifikan pada 2007 sebesar 34,72% dibandingkan 2006. Profitabilitas ISAT pada 2008 mengalami pertumbuhan tipis seiring dengan pertumbuhan sales, terlihat operating profit tumbuh sebesar 4,02% dan net income tumbuh sebesar 1,94% dibandingkan 2007.

Sedangkan net profit margin (NPM) meningkat selama periode 2002-2007. Semua ini menunjukkan bahwa ISAT terus berusaha meningkatkan sales dan efisiensi sehingga profitabilitas ISAT meningkat, dengan cara memperluas market share melalui penambahan asset (BTS) seiring dengan meningkatnya target pelanggan ISAT.

Bisnis seluler memberikan kontribusi 74,9% dari sales perusahaan, bisnis MIDI (multimedia, komunikasi data, dan internet) berkontribusi 15,54%, sisanya berasal dari bisnis telepon tetap.

Asset & Equity

Selama 2002-2006, debt- to-assets ratio (DAR) ISAT stabil berada pada kisaran 51-57%, kecuali 2007 yang mencapai 63,48%. Indikasi ini menunjukkan melonjaknya total asset pada 2007 sebesar Rp.45 triliun lebih dari 2006 yang hanya sebesar Rp. 34 triliun atau tumbuh sebesar 32,36%. Pendanaannya berasal dari utang korporasi. Struktur modal seperti ini membebani keuangan ISAT dan meningkatkan resiko cost of capital apabila ISAT target sales tidak tercapai.

ISAT memiliki utang sebesar Rp. 500 miliar yang jatuh tempo pada 2009 ini kepada PT Bank Mandiri Tbk dan PT BCA Tbk, untuk itu ISAT telah telah mempersiapkan dana dari kas internal untuk membayarnya. Kenaikan total asset ISAT seiring dengan kenaikan total equity namun pertumbuhannya tidak sebanding total assets. Total equity ISAT tumbuh sebesar 8,83% (2006-2007), ini menunjukan bahwa manajemen ISAT mampu memaksimalkan modal yang dimiliki untuk menambah asset guna memicu sales dan menciptakan profitabilitas yang lebih tinggi.

MVA & Market Risk

Kinerja saham ISAT terus meningkat sepanjang April 2005-April 2008, ditunjukkan melalui peningkatan shareholder market value added (MVA) terhadap equity book value (BV) yang sebelumnya mencapai 126,63% (April 2007) dan April 2008 lebih dari 127,28%. MVA/BV adalah selisih antara harga saham (market value) perusahaan dengan nilai buku ekuitas (book value). Nilai MVA/BV yang positif memberikan indikasi ISAT mampu memberikan nilai tambah terhadap nilai buku ekuitasnya. Makin tinggi nilai MVA makin baik sahamnya.

Di tengah penurunan market (IHSG) selama periode April 2007-April 2008 MVA ISAT cenderung stabil karena market risk (Beta) ISAT mulai menurun sejak April 2006 hingga mencapai di bawah 1. Market risk ISAT dalam kurun waktu April 2002-April 2006 berkisar antar 1,00-1,33, dan menurun pada April 2007 (0,87) dan April 2008 (0,80). Market risk (koefisien beta) menggambarkan risiko yang terkait dengan pergerakan pasar, atau risiko sistematis. Market risk yang bernilai lebih dari 1 mengindikasikan harga saham perusahaan berfluktuasi lebih besar dibandingkan fluktuasi pasar. Tingkat volatilitas harga saham perusahaan selama April 2004-April 2007 cenderung stabil di kisaran 32%-38%, kemudian meningkat 91,75% pada April 2008

Market Perception Map 2008

Selain mempertimbangkan kondisi makroekonomi, mikroekonomi, dan analisis fundamendal keuangan (seperti PER, PBV, EPS, ROE, NPM), terdapat faktor penting dalam proses pengambilan keputusan investasi yaitu persepsi pasar (market perception).

Market Perception merupakan konsensus pasar sebagai hasil analisis para investor terhadap kinerja emiten saat ini dan peluang bisnis di masa depan yang berpotensi besar dalam pembentukan dan pergerakan harga saham. Tim riset CAPITAL PRICE meng-‘kuantifikasi’ unsur kualitatif yang melekat dari persepsi pasar tersebut menjadi sebuah market perception map yang mudah dipahami

Market Perception map 2008 memvisualisasikan letak perusahaan terkait dengan CP index dan FGO index relatif terhadap perusahaan-perusahaan lain pada tahun 2008 (April 2008). Ekspektasi pasar terhadap profitabilitas ISAT dalam jangka pendek (CP) pada tahun 2008 hampir sama dengan rata-rata perusahaan lainnya, sedangkan ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan ISAT di masa depan (FGO) juga tidak jauh berbeda dengan perusahaan lainnya.

Persepsi pasar terhadap saham BUMN ISAT ini berkualifikasi netral.

Recent Development

Qtel telah memastikan untuk melakukan tender offer atas 1,31 miliar saham dengan harga Rp 7.388 per sahamnya atau setara 24,19% emiten bersandi ISAT tersebut. Total dana yang dikeluarkan untuk tender offer ini sekitar Rp 8 triliun. Apabila program tender saham berlangsung mulus, Qtel akan menggenggam 65% saham Indosat, karena sebelumnya Qtel sudah memiliki saham Indosat sebesar 40,8% yang di akuisisi dari Singapore Technologies Telemedia senilai US$ 1,8 miliar atau Rp 16,8 triliun. Pada penutupan transaksi perdagangan kemarin, harga saham Indosat justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,88% menjadi Rp 5.650 per saham.

Business Outlook

Potensi pertumbuhan di industri seluler masih tinggi, dari 220 juta penduduk Indonesia dewasa ini baru sekitar 28 juta nomor seluler yang beredar (13%) sehingga pasarnya masih terbuka lebar. Kesempatan penetrasi ponsel masih besar, yaitu lebih dari 30 juta pengguna internet mobile dari lebih dari 120 juta pengguaan seluler.

ISAT mentargetkan dapat 200.000 pengguna pita lebar bergerak (mobile broadband) 3,5G dengan diluncurkannya modem mobile 3,5G Indosat berkecepatan unduh (downlink) 14,4 Mbps berteknologi High Speed Packet Access (HSPA). Pada tahun 2010 penetrasi broadband mencapai sekitar 2% dengan potensi pendapatan US$900 juta. Semua ini dapat memberi dampak positif bagi kinerja ISAT dimasa depan khususnya sales dan profitabilitas, sehingga dalam jangka panjang potensi ISAT masih baik.

Ditulis bersama DEDDY ERTANTO (Financial Research Analyst-CAPITAL PRICE)

February 17, 2009 Posted by | Stocks Analysis | Leave a comment

PT SEMEN GRESIK Tbk: Excellent Value Manager

Oleh : PERDANA WAHYU SANTOSA
Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE

cover-capital-market-trendsArtikel ini pernah dimuat di BISNIS INDONESIA hal F2 dan menjadi materi Talk Show di PAS FM 92.4 pada 02 Januari 2009

Profil Emiten

PT Semen Gresik (Persero) Tbk merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri semen. Diresmikan di Gresik pada tanggal 7 Agustus 1957 oleh Presiden RI pertama dengan kapasitas terpasang 250.000 ton semen per tahun. Pada tanggal 8 Juli 1991 Semen Gresik tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya serta merupakan BUMN pertama yang go public dengan menjual 40 juta lembar saham kepada masyarakat. Sampai dengan tanggal 30 September 1999 komposisi kepemilikan saham berubah menjadi Pemerintah RI 15,01%, publik 23,46% dan Cemex 25,53%. Tanggal 15 September 1995 Semen Gresik berkonsolidasi dengan PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa, yang kemudian dikenal dengan nama Semen Gresik Group (SGG).

Pada 27 Juli 2006 terjadi transaksi penjualan saham CEMEX S.S de. C.V pada Blue valley Holdings PTE Ltd. Sehingga komposisi kepemilikan saham sampai saat ini berubah menjadi Pemerintah RI 51,01%, Blue Valley Holdings PTE Ltd 24,90%, dan public 24,09%. Saat ini kapasitas Semen Gresik Group (SGG) sebesar 17,2 juta ton semen per tahun, dan menguasai sekitar 46% pangsa pasar semen domestik. Beberapa jenis semen yang diproduksi Semen Gresik, antara lain : 1. Semen Portland Tipe I yang dikenal dengan nama ordinary Portland Cement (OPC), 2. Semen Portland Tipe II, 3. Semen Portland Tipe III, 4. Semen Portland Tipe V, 5. Special Blended Cement (SBC), 6. Portland Pozzolan Cement (PPC).

Profil Sektor

Semen Gresik Grup merupakan market leader dengan total kapasitas produksi sebesar 17,25 juta ton dan merupakan 44,4% dari seluruh kapasitas industri semen di Indonesia. Kapasitas sebesar itu merupakan gabungan kapasitas seluruh perusahaannya, yang terdiri dari Semen Gresik sendiri, Semen Padang, dan Semen Tonasa. Semen Gresik, dengan fasilitasnya yang dewasa ini berlokasi di Gresik dan Tuban, memiliki kapasitas produksi sebesar lebih dari 8,2 juta ton, sementara Semen Padang memiliki kapasitas produksi sebesar 5,57 juta ton dan Semen Tonasa mampu menghasilkan semen sebanyak 3,48 juta ton.

Ketiga perusahaan tersebut menjadi bagian Semen Gresik Grup pada 15 September 1995. Dengan rencana ekspansi yang sudah diberitakan di media untuk pembangunan pabrik baru dengan kapasitas 2,5 juta ton di unit usaha Semen Tonasa, maka kapasitas PT. Semen Tonasa akan mencapai sekitar 6 juta ton jika pembangunan pabrik tersebut terlaksana. Sementara itu, Semen Gresik Grup akan memiliki kapasitas seluruhnya hampir mencapai 20 juta ton.

Highlight 2002-2009

Kinerja saham SMGR dalam jangka panjang (2002-2008) menunjukkan tren yang positif dan terus meningkat, hingga menembus level tertinggi Rp 6.200 pada Oktober 2007 yang kemudian terus turun pada level Rp 3000 pada Oktober 2008 dengan nilai transaksi (transaction value) mencapai Rp 20 miliar lebih pada Oktober 2008. Sampai dengan perdagangan 27 Januari 2009, saham SMGR ditutup di posisi Rp3.500 dengan nilai transaksi harian sebesar Rp. 4.322.950.000 disertai volume perdagangan sebanyak 1.239.500 lembar saham.

Sepanjang tahun 2002-2007, SMGR mampu meningkatkan sales dengan rata-rata pertumbuhan per tahun (CAGR) sebesar 13,15%. Pada tahun 2007, perusahaan membukukan pertumbuhan sales sebesar 10% turun dibandingkan tahun 2006 sebesar 15,87%, namun profitabilitas perusahaan dilihat dari operating profit pada tahun 2007 meningkat tajam sebesar 34,70% dibandingkan pada 2006 (13,79%), sehingga CAGR untuk operating profit sebesar 22,83% dan 45,88% untuk net income.

Sejak tahun 2004, perusahaan secara konsisten mampu menghasilkan return on equity (ROE) yang selau meningkat hingga mencapai level tertinggi pada tahun 2007 (26,79%). Perusahaan membukukan CAGR assets dan equity masing-masing sebesar 4,18% dan 15,16% selama periode 2002-2007.

Sales & Profit

Kinerja keuangan perusahaan hingga kuartal III 2008 menunjukkan trend yang selalu naik dan positif ditandai dengan peningkatan sales sebesar Rp 8 triliun lebih dibandingkan pada kuartal III 2007 (Rp 7 triliun), bahkan sampai akhir tahun 2008 Semen Gresik nilai penjualannya (sales) mampu mencapai Rp 12 triliun lebih. Ini menyebabkan net profit perusahaan mencapai 40% sebesar Rp 2,47 triliun.

Selain itu profitabilitas SMGR juga tumbuh signifikan dan relevan seiring dengan peningkatan sales dimana operating profit dan net income masing-masing tumbuh sebesar 34,70% dan 37,04%, melonjak tajam dibandingkan pertumbuhan operating profit dan net income pada tahun lalu (13,79% & 26,69%).

Kesuksesan yang dicapai SMGR dalam meningkatkan sales, kemudian menambah operating profit, dan net income dikarenakan Semen Gresik selalu meninjau ulang pola dan strategi pemasarannya, sehingga distribusi produknya diprioritaskan ke wilayah yang memberikan marjin laba usaha maksimal dengan cara menjalankan program optimasi distribusi dan pola angkutan yang efisien.

Assets & Equity

Sejak tahun 2002-2004 total assets relatif stabil sebelum akhirnya menunjukkan trend-up sampai 2007. Kenaikan pada total assets juga diikuti oleh naiknya total equity, sedangkan untuk debt-to-assets ratio (DAR) dari tahun 2002 sebesar 52,85% terlihat selalu menurun secara signifikan hingga pada 2007 hanya sebesar 22,17%. Dari sini dapat terlihat pesan yang disampaikan manajemen SMGR bahwa perusahaan berusaha meningkatkan nilai sekaligus mengurangi resiko keuangan secara bertahap.

MVA & Market Risk

Saham Semen Gresik menunjukkan kinerja yang paling baik dari ketiga perusahaan semen terbuka yang ada. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi perusahaan tersebut yang dapat mengatasi dampak krisis dengan baik sehingga kinerja sahamnya bahkan lebih baik dibandingkan dengan kinerja IHSG selama lebih dari 9 tahun terakhir. Prospek yang baik dari perusahaan tersebut akhirnya membawa dampak pada tahun 2005, dimana kinerja saham Semen Gresik menunjukkan peningkatan yang sangat tajam.

Selain itu kinerja saham perusahaan terus meningkat sepanjang April 2003-April 2008, ini ditunjukkan dengan peningkatan shareholder market value added (MVA) terhadap equity book value (BV) hingga mencapai lebih dari 300% (April 2007-April 2008). Rata-rata return (annualized) saham perusahaan April 2004-April 2008 dengan kisaran antara 30%-60%.

Selama April 2004-April 2007, sempat terjadi kenaikan market risk saham perusahaan, dari 0,62 hingga mencapai 1,21, sebelum akhirnya menurun sebesar 0,80 pada April 2008. Tingkat volatilitas harga saham perusahaan mengalami konsolidasi di level 30%-40% selama April 2003-April 2008

Market Perception Map

Dalam berinvestasi kondisi makro dan mikro ekonomi merupakan faktor yang penting selain beberapa analisis fundamendal keuangan (PER, PBV, EPS, ROE, NPM) tetapi ada satu faktor lain yang tidak kalah pentingnya untuk diketahui untuk mengambil keputusan investasi yaitu market perception.

Market Perception merupakan konsensus pasar sebagai hasil analisis para investor terhadap kinerja emiten saat ini dan peluang bisnis di masa depan yang berpotensi besar dalam pembentukan dan pergerakan harga saham. Tim riset CAPITAL PRICE meng-‘kuantifikasi’ persepsi pasar yang sebelumnya kualitatif tersebut menjadi sebuah market perception map yang mudah dipahami.

CAPITAL PRICE menemukan bahwa sejak tahun Sejak tahun 2004, ekspektasi pasar terhadap profitabilitas perusahaan SMGR saat ini (current performance- CP) berada sedikit di atas rata-rata emiten lainnya, begitu juga ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan perusahaan masa depan (future growth opportunity-FGO) juga berada di atas rata-rata emiten lainnya. Berdasarkan analisis CAPITAL PRICE, SMGR berada pada kuadran I sehingga masuk dalam kelompok Excellent Value Managers pada tingkat minimal. Persepsi pasar terhadap SMGR ini memberikan harapan yang baik terhadap masa depan emiten ini di masa depan.

Recent Development

PT Semen Gresik Tbk telah melakukan buy back saham perseroan sebanyak 66.608.500 lembar saham senilai Rp 192,68 miliar pada periode 13 Oktober sampai 26 Desember 2008. Program buy back saham ini dilakukan karena pada saat terjadinya krisis pada 8 Oktober 2008 saham perseroan mengalami penurunan, sehingga saham SMGR diperjualbelikan dengan harga Rp 1.850, dengan adanya buyback saham ini maka pada penutupan 30 Desember 2008 saham SMGR mengalami kenaikan yang cukup signifikan mencapai 225% menjadi Rp 4.175. Kinerja Semen Gresik ditengah krisis ekonomi global seperti sekarang ini sampai akhir tahun 2008 sangat menggembirakan. Produksi semen secara group pada 2008 naik 8,6% dibanding tahun 2007 menjadi 18,2 juta ton.

Pada tahun 2009 ini Semen Gresik dihadapkan pada penerusan rencana ekspansi perseroan yaitu proyek peningkatan kapasitas pabrik yang telah berjalan, yakni dengan dimulainya pekerjaan fisik pembangunan pabrik baru di Jawa dan Sulawesi dengan kapasitas masing-masing 2,5 juta ton semen per tahun, dan pembangunan 2 pembangkit listrik (power plant) di Tonasa Sulawesi Selatan dengan kapasitas masing-masing 35 Megawatt. Ekspansi ini membutuhkan dana sebesar kurang lebih US$ 1,3 miliar. Harapannya pabrik baru dan pembangkit listrik tersebut dapat beroperasi pada tahun 2011 untuk Pabrik di Sulawesi dan 2012 untuk pabrik di Jawa. Dengan selesainya optimalisasi peralatan produksi dan pembangunan pabrik baru tersebut kapasitas terpasang perseroan meningkat menjadi 23,4 juta ton pertahun pada tahun 2014.

Selain itu pada 2009 ini PT Semen Gresik Tbk (SMGR) berencana meningkatkan penjualan ekspornya menjadi 10% dari total produksi di tahun 2009. Selama ini, porsi ekspor Semen Gresik hanya sekitar 5%. Sepanjang tahun 2008 ini SMGR telah melakukan ekspor sebanyak 1 juta ton, dengan adanya porsi ekspor yang akan dinaikkan menjadi 10%, maka diharapkan perseroan dapat mengekspor semen hingga 2 juta ton, peningkatan ekspor ini bertujuan untuk mensuplai pasar potensial yang sepanjang tahun 2008 kemarin tidak terpenuhi permintaannya.

Business Outlook

Salah satu permasalahan yang saat ini masih menggelayuti industri semen nasional adalah biaya energi. Saat ini, proporsi biaya energi dari biaya operasional produksi semen mencapai 35%, maka dengan terus turunnya harga BBM dunia efisiensi biaya produksi semakin membaik. Disamping itu, danya stimulus dari pemerintah dalam bentuk proyek-proyek pemerintah pada bidang pembangunan infrastruktur di tahun 2009 ini akan membuat industri semen akan mampu bertahan ditengah resesi ekonomi dunia karena penurunan permintaan akan semen di pasar domestik nasional diprediksi hanya 7-10%.

Ditulis Bersama DEDDY ERTANTO, MM (Financial Research Analyst-CAPITAL PRICE)

February 8, 2009 Posted by | Stocks Analysis | 1 Comment

BUMI dan Aksi Negatifnya

Perdana Wahyu Santosa

Pada acara talk show CAPITAL PRICE Senin sore kemarin di PAS FM bersama Prof. Roy Sembel. PhD, dimana kami membahas rubrik Bedah Korporasi yang dimuat di Bisnis Indonesia dengan judul “Mendeteksi Abnormalitas Bursa”. Ternyata banyak pertanyaan seputar “saham sejuta umat” yang sensasional, yaitu BUMI. Namun karena terbatasnya waktu dan agak out of topic dengan materi talk show, maka saya coba menjawab beberapa isu yang berkembang sekitar BUMI melalui facebook.

BUMI yang sudah terpuruk akibat aksi finansial melalui repo sahamnya yang anjlok berat nilainya akibat krisis ekonomi menjadi semakin terpuruk lebih dalam lagi akibat aksi akuisisi beberapa perusahaan tambang yang oleh sebagian analis saham dinilai terlalu mahal (overvalued) dan kurang memiliki prospek yang baik dimasa depan. Bahkan disinyalir, salah satunya merupakan tambang batubara yang sdh kurang aktif lagi. Hampir semua analis men down grade BUMI dan segera melakukan aksi jual dalam jumlah besar.

Menurut detik.com BUMI telah mengumumkan pembelian tiga perusahaan tambang dengan nilai yang tinggi dalam waktu yang berdekatan. Bumi membeli 76,9% saham saham perusahaan PT Fajar Bumi Sakti senilai Rp 2,47 triliun. Bumi juga melakukan pembelian secara tidak langsung saham DEWA sebesar 43,6% senilai Rp 2,4 triliun. Terakhir BUMI melalui anak usahanya PT Bumi Resources Investment membeli 89% saham yang dikeluarkan Pendopo Coal Ltd senilai Rp 1,303 triliun. Pendopo Coal secara tidak langsung memiliki 94,9% saham PT Pendopo Energi Batubara.

Nilai transaksi akuisisi sebesar Rp. 6,18 triliun akan membebani neraca BUMI sehingga dinilai sebagai transaksi yang material oleh para analis dan Bapepam-LK. Namun sebaliknya, manajemen BUMI tidak menganggap nilai sebesar itu material sehingga tidak perlu melaporkan dan mendapat ijin Bapepem ataupun BEI. Akibatnya, timbul beberapa misinterpretasi seputar aksi akusisi tersebut, sehingga Bapepam “terpaksa” menekan BUMI untuk membuktikan secara hukum alasan-alasan akuisisi material tanpa ijin tsb. Bapepam sekaligus BEI merasa dilangkahi dan dilecehkan sebagai regulator dan badan resmi pengawas pasar modal.

Aksi korporasi BUMI tersebut tentu saja mengakibatkan beberapa sekuritas besar menurunkan peringkatnya berikut target price BUMI menjadi underperform. Hal ini, saya nilai sebagai sesuatu yang wajar karena dalam situasi keuangan yang sulit, BUMI tetap memaksakan diri melakukan akusisi yang “kurang bernilai” tanpa restu dari Bapepam. Konsekuensi logisnya BUMI dihujani tekanan jual yang sangat berat sehingga harus autoreject setiap hari hingga level Rp. 520 (13/01/09) yang merupakan harga terendahnya dalam 5 tahun terakhir. Potensi penurunan kemungkinan akan terus berlangsung karena anjloknya harga minyak hingga USD 37 perbarrel yang akan menekan saham berbasis komoditas dan energi.

Menyimak beberapa informasi negatif seputar BUMI, menimbulkan beberapa kejanggalan baru seperti: 1). Mengapa manajemen BUMI melakukan akusisi ditengah sulitnya keuangan korporasi? 2). Mengapa BUMI berani melangkahi Bapepam dan BEI dalam transaksi akusisi yang material tsb? 3). Mengapa BUMI mengakuisisi perusahaan tambang dgn nilai yang terlalu mahal dan kurang baik prospek bisnisnya? 4). Disinyalir banyak kepentingan politik dibalik akusisi kemahalan tsb, lalu apa manfaatnya bagi investor di BEI kecuali kerugian besar akibat anjloknya harga BUMI ke level terendahnya?

Salam Investasi

January 21, 2009 Posted by | Stocks Analysis | 3 Comments

Tender Offer Indosat, Sebuah Peluang Investasi?

Perdana Wahyu Santosa

Proses tender offer saham ISAT oleh Qatar Telecom (Qtel) yang melelahkan akhirnya mulai menemukan titik terang sekalipun secara legal formal ada semacam ganjalan terkait dgn batas maksimal kepemilikan asing yaitu sebesar 49%. Namun Menkominfo menyerahkan persoalan ini kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan kemudian Bapepam yg akan mengesekusinya. Hal ini memang menjadi polemik tersendiri karena Qtel mengakuisisi ISAT sebesar 65% tanpa harus melepaskan (spin off) anak usahanya bebasis fixed line, StarOne. Boleh jadi aksi korporasi di akhir tahun 2008 ini dinilai pasar sebagai “angin segar” bagi BEI yang sudah luluh lantak diterpa badai krisis global sepanjang tahun.

Pasar juga berekasi positif terhadap proses akuisisi ini, sehingga harga saham ISAT melonjak sebesar Rp. 250/lembarnya atau + 4,63% melanjutkan penguatan beberapa waktu lalu . Selama proses akuisisi ini saham ISAT mengalami kenaikan signifikan dari Rp 4850 per 1 Desember menjadi Rp. 5650 per Jumat siang (26/12/08) namun kembali melemah pada posisi Rp. 5600 (+3,70) jelang tutup pasar karena adanya aksi profit taking.

Menurut rencana, harga saham ISAT untuk tender offer adalah Rp. 7388 perlembar sehingga market price saham telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia ini terus menanjak mendekati harga tender offer-nya. Rencana akuisisi ini dijadwalkan selesai akhir Januari 2009 sehingga masih membuka peluang kenaikan harga lebih tinggi lagi sedekat mungkin dgn harga tender offer-nya. Namun ganjalan batas kepemilikan maksimal 49% membuat para investor lebih menahan diri sementara ini. Pantaskah asing mengendalikan entitas bisnis strategis sepenting Indosat?

Apabila pemerintah, via BKPM memberi sedikit kelonggaran (pelanggaran) batas kepemilikan maksimal Qtel di ISAT maka diprediksi harga ISAT akan kembali melanjutkan penguatannya dengan target harga sekitar Rp 6500. Kenaikan harga ini disebabkan ISAT secara fundamental lebih kuat lagi dan lebih mempunyai daya saing terhadap TLKM sebagai market leader telekomunikasi di Indonesia. Apabila Qtel diberi keistimewaan batas kepemilikan maksimal maka disarankan untuk terus mengkoleksi saham ini.

Namun dibalik analisis kuantitatif tsb, perlu diperhatikan (1). potensi perang harga disektor strategis ini sdh sangat ketat (2) Ekses pengendalian dan kepentingan asing dibalik akuisisi ini dan (3) Benarkah hanya Qtel yang berperan dalam akuisisi ini. Hal2 tsb perlu dipertimbangkan secara matang sebelum mengambil keputusan investasi long-term. Bahkan mungkin, ISAT yg dikendalikan asing nantinya akan digunakan untuk menghantam TLKM agar pantas juga untuk dijual murah kepada asing?

Selling Indonesia by discount, can you tell me where my country wrong?

January 21, 2009 Posted by | Stocks Analysis | Leave a comment